Telu Nulung Siji, Cara Kades Krandegan Aktualisasikan Program Jogo Tonggo

BAYAN,  Pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia telah menelurkan Program Jogo Tonggo di Jawa Tengah. Program yang bermakna menjaga tetangga itu digulirkan oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo untuk menciptakan lingkungan tetap kondusif di masa pandemi dalam berbagai sektor. 

Tujuan program Jogo Tonggo salah satunya adalah untuk menjaga warga agar tetap bisa bertahan hidup di masa sulit khususnya mereka yang memiliki keterbatasan. Seperti yang dilakukan di Desa Krandegan, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo. Untuk menjaga warganya yang tidak mampu agar tetap bisa memenuhi kebutuhan pangan, Kepala Desa Krandegan Dwinanto, SE menggagas Program Telu Nulung Siji (3N1).

Ditemui di Kantor Desa Krandegan, Rabu (28/10) Dwinanto berkisah tentang program yang digulirkannya sejak bulan Mei lalu. Dwi mengatakan, program 3N1 bermakna tiga Kepala Keluarga (KK) menolong satu KK yang tidak mampu.

Disebutkan, warga Krandegan yang jumlahnya sekitar 900 KK itu dibagi menjadi tiga klaster yakni hijau, kuning, dan merah. Klaster hijau adalah warga yang hidup berkecukupan secara materi. Klaster kuning adalah mereka yang masih mampu mencukupi kebutuhan makan sehari-hari saja. Adapun klaster merah adalah mereka yang mengalami kesulitan untuk mencukupi kebutuhan makan sehari-hari. 

“Dari hasil survey yang dilakukan oleh perangkat desa, ternyata ada sekitar 200 KK yang masuk dalam klaster merah. Meski demikian, hanya 50 KK yang betul-betul masuk kategori miskin karena mereka tidak  dapat diberdayakan akibat keterbatasan yakni karena jompo, cacat fisik maupun cacat mental. Mereka inilah yang kami back up dan berhak menerima bantuan program 3N1,” ucap Dwinanto yang merupakan  alumni Fakultas Ekonomi UNS itu.

Kades Krandegan Dwinanto, SE

Disebutkan Dwi, ke-50 KK itu tersebar di enam RW atau enam dukuh. Mereka setiap hari mendapatkan kiriman makanan berupa nasi berikut sayur dan lauk yang dikemas dalam besek plastik. 

Dwi menjelaskan, setiap hari ada empat sampai tujuh wanita yang bertugas memasak mulai pukul 08.00 di dapur umum yang sudah disediakan.

Seperti saat ditemui Purworejonews Rabu (28/10), ada empat wanita yang sedang berbagi tugas. Menunya sayur asem dengan lauk tahu. Selesai digoreng dan ditiriskan, lima potong tahu ditata di atas nasi, bersanding dengan sayur asem yang telah dibungkus plastik.

Pukul 11 siang, ke-50 paket makan siang siap diantar oleh Purwanto (52), seorang warga yang diberi tugas khusus dengan menggunakan sepeda motor yang telah diberi krombong. Kecuali hari Minggu, kegiatan membagi paket makan siang untuk 50 KK yang tersebar di 17 RT itu rutin dilakukan Purwanto selama sekitar satu jam. 

Seorang penerima bantuan 3N1 bernama Mbah Amat Yatin (80) saat ditemui Purworejonews  mengaku, dirinya sangat terbantu dengan adanya program itu. 

Alhamdulillah niki mbantu sanget. Kulo mboten mawi bingung golek maem,” ujarnya polos. 

Ibu-ibu sukarelawan sedang meracik masakan

Hal serupa dituturkan Mbah Kasanah (71) yang tinggal bersama suaminya yang sudah tidak mampu berjalan. Mbah Kasanah juga tinggal bersama anak lelakinya yang mengalami gangguan jiwa. 

Menurut penuturan Mbah Kasanah, paket makanan yang diterimanya itu cukup dimakan bertiga. “Kulo sampun ngliwet. Mangke niki ngge dimaem sore,” ujarnya sambil masih memegang bungkusan besek plastik yang baru diterimanya.

Terkait dana operasional yang digunakan untuk membiayai kegiatan 3N1, Dwinanto kembali bertutur bahwa dana yang diperoleh murni didapatkan dari warga. 

“Mereka betul-betul tergerak untuk bisa saling menjaga agar tetangganya jangan sampai mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan pangan. Terlebih hal itu mulai dirasakan saat Pandemi Covid-19,” kata Dwi.

Caranya, mereka yang mampu akan memberikan donasi sesuai dengan kemampuannya. Bagi para petani yang mampu, saat panen mereka menyumbang gabah. Tercatat ada 113 petani yang menyumbangkan gabah  total sebanyak lima ton atau tiga ton beras sekali panen. Jumlah itu cukup sampai untuk masa panen berikutnya dengan asumsi sehari dibutuhkan 15 kg beras.

Donasi lainnya yakni dalam bentuk uang. Dwi juga memberikan penawaran  kepada warga yang mampu untuk  membeli paket senilai Rp 400.000/bulan untuk 1 KK. 

Menyiapkan nasi, sayur dan lauk

“Donasi yang diberikan dicatat sebagai donatur tetap bulanan. Jumlahnya bisa bertambah atau berkurang setiap bulannya. Tapi relatif stabil sehingga tidak menggangu kondisi keuangan. Beberapa dari mereka bahkan berada di perantauan,” ucap Dwi yang menjabat kades dalam dua periode ini. 

Selain itu, atas kesepakatan bersama hasil zakat di bulan Ramadhan tahun ini senilai Rp 120 juta didonasikan untuk kepentingan program 3N1 ini.
Menurutnya, dalam sebulan dana yang dibutuhkan sebesar Rp 20 juta.

Adapun tenaga juru masak adalah suka rela. Tak jarang ibu-ibu yang sedang menunggu anaknya di TK ikut membantu meracik bumbu dan sayuran yang akan dimasak. 

Sebagai bentuk pertanggungjawaban penggunaan dana yang dihimpun, Dwi menyampaikan laporan donasi secara transparan yang disampaikan dalam bentuk laporan by name. LPJ tersebut disampaikan Dwi tiga hari sekali di lima grup WA grup yang dibuat Dwi. Grup WA itu antara lain grup karang taruna, warga perantauan, pemdes, serta grup warga. 

Dwinanto optimistis program 3N1 yang sudah berjalan enam bulan itu dapat terus berjalan. Hal itu karena ia melihat kepedulian yang tinggi dari warga yang mampu keoada mereka yang tidak berpunya. 

Dalam pandangan Dwi, program Jogo Tonggo itu dapat benar-benar berjalan di Krandegan karena warganya saling menjaga agar tidak terjadi kesenjangan. Caranya yakni warga yang mampu ikut memikirkan bagaimana agar tetangga mereka yang tidak mampu, bisa makan.  

“Setidaknya meringankan beban mereka agar jangan memikirkan besok bisa makan atau tidak. Inilah makna jogo tonggo yang sebenarnya,” pungkas Dwi. (Yudia Setiandini)

Tinggalkan Balasan