Tahun 2021 Desa Wajib Mengalokasikan Dana Desa untuk Penyertaan Modal BUMDes

PURWOREJO, Pada tahun 2021 mendatang semua desa harus sudah memiliki Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dan wajib mengalokasikan sebagian Dana Desa untuk penyertaan modal BUMDes. Dana penyertaan modal ke BUMDes digunakan untuk membiayai berbagai kegiatan ekonomi sesuai dengan potensi masing-masing desa.

“Semua desa bisa mendayagunakan BUMDes untuk pengembangan ekonomi desa. Misalnya mengembangkan wisata desa,” kata Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dinpermades)
Kabupaten Purworejo, Agus Ari Setyadi, saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (9/11).

Disebutkan, dari 469 desa yang ada di Purworejo, baru 362 desa yang sudah punya BUMDes.

“Tidak perlu rumit-rumit, yang sederhana saja. Termasuk dalam hal mengelola potensi desa, baik potensi alam maupun potensi usaha yang bisa dikembangkan serta dikelola secara profesional dan maksimal,” ucapnya.

Studi Banding ke BUMDes Mendak

Agus Ari mengungkapkan, sebagai salah satu upaya mengembangkan potensi desa, pekan lalu pihaknya melakukan studi banding BUMDes ke Desa Mendak, Madiun, Jawa Timur. Studi banding diikuti 17 peserta, termasuk enam kades.

Mereka adalah Kepala Desa Kalijering Kecamatan Pituruh, Desa Tegalsari Kecamatan Bruno, Desa Krandegan Kecamatan Bayan. Juga Desa Sedayu Kecamatan Loano, Desa Redin Kecamatan Gebang, dan Desa Tawangsari kecamatan Kaligesing.

Di sana, lanjutnya, peserta studi banding mendapatkan pencerahan dari BUMDes di Desa Mendak yang mengelola wisata alam berupa bekas galian tambang. Wilayah tandus itu dikemas menjadi lokasi wisata yang menarik sehingga menghasilkan pemasukan ratusan juta rupiah setiap tahun bagi desa yang hanya memiliki 133 KK tersebut.

Kuncinya Kemauan

Kondisi itu, ujarnya, sangat memungkinkan untuk diterapkan di Purworejo yang wilayah pegunungannya jauh lebih bagus dan lebih baik lagi. “Kuncinya hanya kemauan dan semangat. Itu saja,” tegas Agus Ari.

Disamping itu, dalam studi banding Agus Ari juga melihat adanya peluang bisnis antardaerah yakni madu klanceng. Menurutnya, di sentranya yakni di Desa Jelok dan Desa Donorejo madu itu hanya dijual Rp 75.000/botol. Sedangkan di Mendak harganya mencapai Rp 150.000/botol.

“Ini sedang kita jajaki untuk peluang usaha yang dapat dikembangkan. Jadi dalam studi banding kemarin kami betul-betul memanfaatkannya untuk saling sharing,” tanda Agus Ari. (Dia)

Tinggalkan Balasan