SMK Kesehatan Pelopor Satgas Covid-19 tingkat Sekolah di Purworejo

PURWOREJO, Sebagai sekolah berbasis kesehatan, SMK Kesehatan Purworejo menjadi pelopor dibentuknya Satgas Covid-19 Sekolah di Kabupaten Purworejo. Untuk memantapkannya, hari Selasa ini (19/12) diadakan Diklat Satgas Covid-19 di aula sekolah setempat.

Kepala SMK Kesehatan Drs Nuryadin M.Pd menjelaskan, diklat diikuti 25 peserta yang berasal dari pengurus OSIS, PMR, Pramuka, dan Rohis. Mereka diseleksi berdasarkan kapabilitasnya. Selain juga waka humas dan guru keperawatan

“Selama setengah hari mereka mengikuti materi dari tiga nara sumber; Dwi Agung Pamuji, S.Kep, Vika Nurulianawati, SKM, dan Kepala Puskesmas Mranti,”jelasnya.

Materi yang diberikan yakni tentang antisipasi penyebaran virus, teknis menangani orang yang positif Covid-19, dan kebijakan pemerintah terkait Covid-19.

Nuryadin menyebut, sebagai kepala SMK Kesehatan, dirinya memiliki tanggung jawab untuk mengatasi wabah yang belum juga berakhir itu.

Caranya yakni dengan membentuk relawan untuk pencegahan Covid-19 di lingkungan sekolah. Juga untuk menyusun edukasi sebagai strategi agar istiqomah menjalankan prokes di lingkungan sekolah.

Kepala SMK Kesehatan Purworejo Nuryadin, M.Pd

Nuryadin menilai, selama satu semester sebelumnya prokes tidak dijalankan secara maksimal.

“Nantinya dengan adanya tim satgas ini diharapkan semua dapat benar-benar meningkatkan penerapan 3M,” ungkapnya.

Mereka akan efektif bertugas mulai awal pembelajaran bulan Januari mendatang.

Tidak hanya itu. Selain membuat leaflet dan brosur, sekolah juga membuat film pendek antara lain berisi testimoni bagi yang sudah sembuh serta penggunaan obat herbal untuk pencegahan Covid.

Selain satgas Covid, SMK Kesehatan juga ditunjuk sebagai sekolah tanggap bencana di tingkat provinsi. Hal itu karena SMK yang terletak di Jalan Kemuning itu dinilai memiliki sarana dan prasarana yang cukup antara lain memiliki mobil ambulans serta ekskul PMR yang aktif.

Nuryadin menjamin sekolahnya aman dari Covid-19 karena hingga saat ini seluruh warga sekolah belum ada yang terkonfirmasi. Juga karena penerapan prokes yang ketat selama berada di lingkungan sekolah. (Dia)

Tinggalkan Balasan