Selama Pandemi, Materi Pembelajaran Hanya Terserap 30%

PURWOREJO, Sistem pembelajaran daring (online) di masa pandemi hanya dapat menyerap sekitar 30% dari materi yang diberikan. Disamping itu juga tidak terpenuhinya pendidikan karakter yang terhenti selama pandemi.

Pernyataan itu disampaikan Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olah Raga Kabupaten Purworejo, Sukmo Widi Harwanto, SH, MM saat menghadiri acara pengukuhan Pengurus Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP di RM ABK, Selasa (5/1).

Menurut Sukmo, saat ini sistem pembelajaran tidak seragam, ada yang daring (belajar di rumah) dan juga luring (tatap muka). Hal itu karena kebijakan yang berbeda di masing-masing level.

“Mendikbud menganggap pembelajaran di rumah kurang efektif sehingga membolehkan sistem belajar tatap muka. Tapi di sisi lain Gubernur Jawa Tengah belum membolehkan sistem pembelajaran tatap muka sehingga siswa SMA, khususnya sekolah negeri kembali melanjutkan pembelajaran daring,” jelasnya.

Di Purworejo, lanjut Sukmo, sistem pembelajaran yang dilakukan bernama konsultasi terprogram dengan prokes ketat. Meski pelaksanaannya diserahkan kepada sekolah masing-masing.

Misalnya SDN Purworejo dan SDN Sindurjan menerapkan konsultasi terprogram, sedangkan SD Maria dan beberapa SD swasta lain daring.

Terkait kekuatiran adanya klaster sekolah dengan diterapkannya konsultasi terprogram atau tatap muka, Sukmo meyakini, hal itu tidak akan memberikan klaster baru.

“Kecuali kalau ada pendidik yang dikirim mengikuti kegiatan di luar kota, maka bisa ada kemungkinan terinfeksi Covid-19,” tegasnya.

Selama inipun bila ada peserta didik yang sakit maka wajib belajar di rumah. “Justru dari keluargalah yang berpotensi menyebarkan virus Corona, karena tidak terdeteksi sejak dini,” pungkas Sukmo. (Dia)

Tinggalkan Balasan