Radikalisme di Dunia Maya Jadi Embrio Lahirnya Terorisme

PURWOREJO, Fenomena berita hoax dan sikap radikalisme yang semakin luas merambah ke dunia maya (virtual world) menunjukkan masih adanya celah yang dapat dimanfaatkan oleh kelompok/organisasi radikal dan teroris dalam menyebarkan paham radikalnya.

Upaya-upaya propaganda radikalisasi ini mudah menyebar ke seluruh dunia karena perkembangan teknologi komunikasi, seperti maraknya berbagai aplikasi dan sarana media sosial serta kemudahan dalam mengakses berbagai situs media sosial dan media online lainnya.

Hal itu disampaikan Kapenrem 072/Pmk Mayor Caj Syamsul Maarif, S.Ag dalam kegiatan Literasi Media dalam Mengantisipasi dan Mencegah Faham Radikalisme. Kegiatan dilaksanakan di Aula Jenderal Sudirman Kodim 0708 Purworejo, Kamis (22/3). Kegiatan diikuti oleh seluruh prajurit dan PNS beserta keluarga Kodim 0708 Purworejo.

Lanjutnya, gejala tersebut bisa dikatakan sudah menjadi trend bagi kelompok radikal dalam melancarkan aksi propaganda dan ancaman-ancaman untuk membuat resah masyarakat.

“Radikalisme yang ditanamkan melalui dunia maya dapat menjadi embrio lahirnya terorisme,” tandasnya.

Masih kata Mayor Caj Syamsul Maarif, S.Ag, pemerintah juga sudah melakukan upaya pemblokiran situs-situs yang cenderung radikal. Walaupun itu menuai pro dan kontra, namun perlu diakui bahwa upaya pemerintah dalam mencegah berkembangya bibit terorisme memang perlu dilakukan.

“Akan tetapi kebijakan pemblokiran situs-situs ini akan tidak efektif bila berjalan sendiri, mengingat karakteristik internet yang menyebabkan pemblokiran menjadi sia-sia karena selalu ada celah di balik teknologi cyber, “ucapnya.

Sementara itu Kasdim 0708/Purworejo Mayor inf Sulistiyono dalam amanatnya mengingatkan kepada semua anggotanya untuk memakai sarana media sosial dengan semestinya. Seperti memakai bahasa yang santun, bijak, tidak menebar hoaks dan kebencian kepada seseorang atau suatu golongan.

“Dampingi keluarga dan anak-anak kita dalam penggunaan media agar tidak terpengaruh hal hal yang merusak etika, moral dan terhindar dari sikap radikalisme,”ujarnya. (W5)

Tinggalkan Balasan