Proyek Penataan Landscape Pantai Jatimalang Disorot, Kontraktor Membantah

JATIMALANG, Proyek pembangunan tahap II penataan Landscape Pantai Jatimalang di Kecamatan Purwodadi senilai Rp 1, 9 mendapat sorotan negatif dari warga setempat. Warga mengkritik cara pengerjaan proyek dan kualitas material yang digunakan dinilai rendah. Contohnya paving block banyak yang pecah dan penggunaan pasir pantai.
Seorang warga setempat bernama Agus mengaku pernah menyarankan agar Dinas Pariwisata dan Kebudayaan sebagai pemilik proyek untuk melakukan uji laboratorium. Tetapi kata Agus sarannya tidak direspon oleh Dinas.
“Katanya saya tidak punya wewenang dan mereka akan uji lab sendiri di Dinas Pekerjaan Umum Purworejo. Namun setelah saya cek sampai sekarang belum ada permintaan uji lab dari CV Garuda Sakti,”tutur Agus.
Menanggapi kritik tersebut, pelaksana CV Garuda Sakti, Andi Handoko menjelaskan, pembangunan kawasan pantai Jatimalang yang dikerjakannya dipastikan sesuai speksifikasi.
“Saya pastikan semua material dan pengerjaanya sudah sesuai spek. Kalau ada yang menduga tidak sesuai spek itu hanya salah paham,”kata Andi Handoko saat dikonfirmasi, Selasa (10/9).

Andi Handoko

Menurut Andi, memang di lokasi ada tumpukan paving yang afkir, namun begitu paving tersebut tidak dipasang dan hanya yang masih layak dipotong untuk digunakan menyambung (las).

Dijelaskan, terkait dengan material yang digunakan terdapat dua jenis material utama. Yakni paving dan pasir yang digunakan untuk membangun area parkir, joging track dan taman serta gazebo.
“Kami memakai pasir urug. Paving sendiri ada dua jenis, yakni K-175 untuk joging track dan K-300 untuk area parkir. Material ini juga sudah mendapat pengujian dari DPU Magelang dan Purworejo, bahkan nanti akan diuji secara independen oleh dinas terkait,” jelas Andi sambil menunjukkan bukti hasil lab.
Andi menambahkan, pengerjaan proyek dilakukan dengan memberdayakan masyarakat sekitar Pantai Jatimalang. Hal ini dilakukan untuk memperketat pengawasan terhadap kualitas material dan mekanisme pengerjaan proyek tersebut.

“Masyarakat sekitar ikut mengerjakan, sehingga pengawasan terhadap pembangunan semakin ketat. Minimal untuk mengurangi kelalaian pengerjaan tim di lapangan, mengingat masyarakat sana pasti menginginkan proyek dikerjakan sebaik mungkin,”tandasnya. (W5)

Tinggalkan Balasan