Pengetan Jumenengan RAA Tjokronegoro I Memuncaki Peringatan Hari Jadi ke-189 Kabupaten Purworejo

PURWOREJO, Pidato Bupati menggunakan bahasa Jawa dan sajian dua tari beksan yang sakral pada acara Pengetan Jumenengan RAA Cokronegoro I, di pendopo kabupaten, Kamis malam (27/2), menjadi pemuncak rangkaian peringatan Hari Jadi ke-189 Kabupaten Purworejo tahun 2020.

Acara Pengetan Jumenengan kali ini lebih ringkas dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kali ini tidak ada peragaan pelantikan RAA Tjokronegoro I sebagai Bupati I Purworejo. Meski demikian nuansa Jawa abad 18 masih terasa.

Bupati Purworejo Agus Bastian, SE, MM mengenakan surjan hitam bertaburan warna kuning keemasan, dengan aksesori pangkat di kedua pundaknya, serta blangkon sliwir pendek menempel di kepalanya.

Sementara istri Agus Bastian, Fatimah Verena Prihastyari, dan Wakil Bupati Yuli Hastuti mengenakan kebaya purworejonan warna hitam bertabur aksesori warna keemasan.
Sedang Sekda Said Romadhon dan para pejabat Forkopimda mengenakan surjan warna cokelat.

Beksan Kidung Cakra

Acara Pengetan Jumenengan diawali dengan pidato bupati menggunakan bahasa Jawa. Dalam pidatonya Bupati mengajak masyarakat untuk melihat sejarah Purworejo yang telah lewat, melihat kemajuan pembangunan yang sedang berjalan, serta melihat kebutuhan Purworejo di masa depan.

Wonten ing pengetan ambal warsa Kabupaten Purworejo menika, mugi-mugi saged dados landhesan minangka kaca benggala lampahipun Kabupaten Purworejo,” kata Bupati.

Bupati juga mengajak masyarakat untuk memelihara hasil-hasil pembangunan yang baik, dan memperbaiki program yang tidak sesuai dengan harapan (Sampun kathah kasil ingkang sae, mila kedah dipun kencengi saha dipun indhakaken, dene bab-bab ingkang dereng cundhuk kaliyan angen-angen, mangga sareng-sareng dipun dandosi).

Mangga kula angajak sesarengan gugur gunung, sayuk rukun, saiyeg saeka kapti, sareng-sareng ngedalaken kekiyatan kula panjenengan satemah saged nyekapaken perkawis-perkawis ingkang sampun kawuri saha perkawis-perkawis ingkang badhe dhateng, tumrap majengipun Kabupaten Purworejo,” pungkasnya.

Beksan Cakra Tunggal

Usai mendengarkan pidato bupati, disajikan Beksan Kidung Cakra yang dibawakan oleh tujuh penari perempuan. Tarian sakral itu menggambarkan tujuh prajurit perempuan yang sedang berlatih perang dengan senjata cakra.

Sajian kedua yaitu Beksan Cakra Tunggal, dibawakan oleh enam penari pria berpakaian prajurit keraton. Dua penari membawa pedang, sedang empat penari bersenjatakan tombak.

Kedua tari beksan itu merupakan garapan Sanggar Tari Prigel asuhan Melania Sinaring Putri. 

Usai suguhan dua tari beksan, Bupati dan seluruh undangan pindah ke panggung kedua di Jalan RAA Tjokronegoro. Di stage penuh lampu sorot warna warni itu Bupati disuguhi sajian sendratari yang menggambarkan perjalanan Purworejo dari era 1830an hingga sekarang. (Nas)

Tinggalkan Balasan