Paguyuban Muda Ganesha Sukses Gelar Peringatan Hari Pahlawan Bertajuk Purworejo Kota Pejuang

PURWOREJO, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, SH menegaskan, masyarakat Purworejo dapat mencari tokoh diaspora (perantau) untuk mengubah image Purworejo sebagai Kota Pensiunan menjadi daerah yang maju. Penegasan itu disampaikan Gubernur di depan ratusan alumni SMA Negeri 1 Purworejo yang memenuhi GOR WR Supratman, Minggu (10/11) siang.

Ganjar Pranowo di GOR bersama mantan Ketua Badan Pembina Ideologi Pancasila (BPIP), Yudi Latif, MA, Ph.D dalam rangka menghadiri peringatan Hari Pahlawan yang digelar oleh Paguyuban Muda Ganesha (paguyuban alumni SMAN 1 Purworejo).

Dalam acara itu hadir pula Wakil Bupati Purworejo Hj Yuli Hastuti, SH, Ketua Umum Paguyuban MG, yang juga Sekretaris Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Dwi Wahyu Atmaji, Ketua DPRD Purworejo Dion Agasi Setyabudi, dan ratusan anggota MG lintas angkatan. Dwi Wahyu Atmaji adalah seorang diaspora yang sukses meniti karier di pemerintahan.

Lebih lanjut Ganjar mengatakan, masyarakat Purworejo harus bisa merespon perkembangan yang sedang dan akan terjadi di daerah sekitar. Terutama dengan dibangunnya bandara Yogyakarta International Airport di Kulonprogo.

Yudi Latif saat memberikan Tausiyah Kebangsaan

Ganjar juga sependapat dengan julukan Purworejo sebagai Kota Pejuang, karena di daerah ini lahir banyak pahlawan nasional dan tokoh-tokoh besar Indonesia.

Sementara itu Yudi Latif (55) dalam Tausiyah Kebangsaan mengatakan, banyaknya pahlawan nasional dan tokoh besar yang berasal dari Purworejo hendaknya menginpirasi warganya untuk ikut memberi sumbangsih kepada bangsa

“Jenderal Urip Sumoharjo adalah Kepala Staf Umum TNI pertama yang berjasa menyusun dasar-dasar organisasi militer. Tanpa pemikiran Urip Sumoharjo, mustahil organisasi militer kita menjadi seperti sekarang ini,”tandas Yudi Latif, penulis buku Negara Paripurna: Historis, Rasionalis, Akuntabilitas Pancasila.

Yudi Latif juga mengupas satu persatu pahlawan nasional yang lahir di Purworejo, seperti Urip Sumoharjo, Ahmad Yani, Kasman Singodimedjo, WR Supratman, serta Sarwo Edi Wibowo.

Menurutnya, mereka memiliki peran masing-masing sebagai hard power dan soft power. Urip Sumoharjo dan Ahmad Yani mewakili peran hard power, sedang WR Supratman melalui lagu Indonesia Raya dan lagu-lagu perjuangan lainnya mewakili soft power.

Dwi Wahyu Atmaji berfoto bersama alumni MG

Dwi Wahyu Atmaji usai acara mengatakan, julukan Kota Pejuang bagi Purworejo dinilai sangat tepat karena daerah ini melahirkan banyak pahlawan dan tokoh besar. Namun dia berharap hal itu menjadi modal bagi masyarakat untuk meningkatkan kemajuan Purworejo.

“Orang luar daerah mengagumi Purworejo karena banyak tokoh besar lahir disini. Itu merupakan modal kita yang bisa kita eksplor antara lain untuk pengembangan pariwisata. Kita bisa membangun pariwisata sejarah disini,”kata Atmaji.

Peringatan Hari Pahlawan yang diprakarsai Dwi Wahyu Atmaji itu menyuguhkan pertunjukan tari kolosal yang menggambarkan perjuangan masyarakat Purworejo dari masa perang kemerdekaan hingga kini, garapan seniman tari Melania Sinaring Putri, pengelola Sanggar Tari Prigel.

Disamping itu tampil pula penyanyi 1980an Dewi Yull yang membawakan lagu hitsnya seperti Jangan Ada Dusta Diantara Kita dan lagu Dia karya Anji. Kehadiran Dewi Yull yang mendapat respons dari undangan yang hadir. (Nas/Dia)

Tinggalkan Balasan