Memaksimalkan Pengelolaan Sampah, Purworejo Berharap Raih Kembali Piala Adipura

PURWOREJO, Di masa lalu, sampah jadi momok yang sangat menakutkan dan seperti tak pernah bisa diselesaikan. Tiap tahun produksi sampah terus meningkat secara deret ukur, sementara penanganannya mengikuti deret hitung. Oleh karena itu tidak heran jika Pemda Purworejo (saat itu) tak pernah bisa meraih Piala Adipura.

Tapi sekarang sampah bukan lagi problem rumit seperti di masa lalu. Setelah pengelola sampah berganti tangan, dari Dinas Pekerjaan Umum ke Dinas LH, sampah kini bukan lagi jadi problem pemerintah, bahkan bisa mendatangkan berkah.
“Kami punya 18 armada yang tiap hari mengangkut puluhan ton sampah dari 21 TPS (Tempat Pembuangan Sementara) yang tersebar di Purworejo dan Kutoarjo,” kata Al Bambang Setyawan, di kantornya, Jumat (7/2).
Dengan 18 armada pengangkut sampah, kini hampir tidak kita jumpai lagi sampah menggunung di TPS. Apalagi sekarang Dinas LH telah membangun 11 TPS 3R, yaitu TPS khusus yang menampung sampah rumah tangga dan langsung memilahnya.
Hasil pemilihannya berupa sampah organik dan anorganik. Sampah organik langsung diolah jadi bahan kompos, sedang yang anorganik didaur ulang sesuai prinsip 3R: reuse, reduce, recycle. Sisanya berupa residu diangkut ke TPA di Jetis.
“Tempat Pembuangan Akhir di Jetis saat ini sudah tak seperti TPA pada umumnya. Tempatnya bersih dan tidak kumuh. Di kawasan itu kami bangun taman yang asri,” ungkapnya.

Jembatan timbang sampah di TPA

TPA Jetis juga dilengkapi dengan alat penimbang sampah yang masuk. Alatnya berupa jembatan timbang digital yang mencatat bobot sampah di atas kendaraan yang melewati jembatan. Jembatan timbang sampah itu dibangun 2017 lalu.

“Dengan alat itu kita jadi tahu, rata-rata sampah yang masuk ke TPA Jetis sebanyak 40 ton. Jumlah itu jauh lebih sedikit dibanding tahun-tahun lalu,” jelas Bambang Setyawan.
Untuk memaksimalkan fungsi TPA Jetis, Dinas LH berencana memperluas area dengan membeli lahan seluas 6.000 m2 yang lokasinya masih dalam kawasan itu.
Upaya lain mengurangi produksi sampah rumah tangga, Dinas LH terus mendorong berdirinya bank-bank sampah. Saat ini terdapat 20 bank sampah yang dikelola secara mandiri oleh masyarakat. Bank-bank sampah itu merupakan penyerap sampah rumah tangga paling depan sebelum TPS dan TPA.
Keberhasilan Pemkab Purworejo meraih Piala Adipura tahun 2019 lalu tak lepas dari tekad yang kuat dari Bupati Purworejo Agus Bastian, SE, MM dan tangan dingin Kepala Dinas LH, Al Bambang Setyawan, S.Sos, MM.
Bupati Agus Bastian pernah menyatakan tekadnya untuk mengulang sukses yang diraih di tahun 2019. Bupati mendorong Dinas LH untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk membuat Kota Purworejo bertambah bersih, indah dan rapi.
Kini dengan kesiapan Dinas LH dan juga dukungan dari institusi lain, baik pemerintah maupun swasta, Purworejo pantas berharap meraih kembali Piala Adipura untuk kali kedua pada tahun ini. Bahkan tidaklah salah jika memimpikan suatu saat mendapat Adipura Kencana, yaitu penghargaan istimewa jika bisa mendapatkan Piala Adipura tiga kali berturut-turut. (Nas)

Tinggalkan Balasan