Marak Isu “Pengcovidan” Pasien, Begini Penjelasan RSUD Dr Tjitrowardojo

PURWOREJO, Akhir-akhir ini banyak keluhan di masyarakat terkait dengan maraknya isu “peng-Covid-an” pasien saat harus menjalani rawat inap di RSUD Dr Tjitrowardojo. Hal ini tentu saja menjadi keprihatinan tersendiri bagi banyak pihak, termasuk Wakil Direktur Pelayanan RSUD Dr Tjitrowardojo dr Ika Endah Lestariningsih, Sp.Kj, M.Kes.

Terkait hal tersebut, dr Ika memberikan penjelasan kepada Purworejonews, Senin (30/11). Menurut dr Ika, dalam kondisi sekarang ini, setiap pasien yang masuk ke RS dengan gejala mengarah Covid seperti demam, panas tinggi, batuk, pilek, radang, maupun sesak nafas akan mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut, termasuk Rontgen dan cek laboratorium.

“Termasuk riwayat kontak erat atau perjalanan di wilayah transmisi lokal,” tambanya.

Bila gejalanya berat maka yang bersangkutan harus diisolasi dan masuk ke ruang khusus Covid baik yang berada di lantai 2 RSUD untuk pasien suspek atau di lantai 3 bila sudah dinyatakan terkonfirmasi positif Covid-19.

Namun demikian dr Ika mengaku, saat ini RSUD Dr Tjitrowardojo belum memiliki cartridge Tes Cepat Molekuler (TCM) khusus Corona. “Kita sudah punya cartridge TCM untuk TBC, tapi untuk yang Corona kami masih menunggu dari Kemenkes sampai sekarang belum ada jawaban,” keluhnya.

Padahal sebagai RS rujukan Covid-19 pihaknya sudah menyiapkan berbagai persyaratan yang diajukan, termasuk laboratorium serta petugas khusus untuk alat tersebut. Hal itu menjadi salah satu kendala lambatnya penentuan status pasien yang dirawat di RS apakah discharge (tidak berlanjut) atau confirm (positif Covid-19).

Mesin TCM

“Yang terjadi selama ini adalah pasien yang mengalami gejala kemudian kami isolasi, artinya tidak boleh ditunggui oleh pihak keluarga sambil menunggu hasil swab keluar sekitar 3 atau 4 hari. Hal inilah yang menjadi beban psikologis baik bagi keluarga maupun perawat, dan tentu saja pasien yang bersangkutan,” jelas dr Ika.

Belum lagi bila kondisi pasien memburuk hingga akhirnya meninggal sebelum diketahui hasil lab nya, “Maka yang bersangkutan akan kami perlakukan sebagai pasien suspek Covid berkaitan dengan pemulasaraan jenasahnya, tetap kami kafani tapi dibungkus plastik dan dimasukkan ke dalam peti jenasah dan tidak boleh dibuka sampai penurunan ke liang lahat” jelas dr Ika.

Hal inilah yang sering menimbulkan konflik di masyarakat. “Kami terus mengedukasi masyarakat terkait dengan hal ini. Kami juga sangat berhati-hati dalam bersikap dan bertindak mengingat situasi seperti sekarang ini,” jelas dr Ika.

Pihaknya terus berharap agar pemerintah dalam hal ini Kemenkes dapat segera merealisasikan adanya cartridge TCM Corona sehingga tidak perlu lagi menunggu hasil swab dari kota-kota yang menjadi rujukan yang membutuhkan waktu berhari-hari.

“Kami berharap Bupati serta legislatif dapat mendorong segera tercapainya hal tersebut agar masyarakat dan juga para nakes lebih tenang dalam bertugas,” harap dr Ika. (Dia)

Tinggalkan Balasan