Lumut Sutra Unit Usaha Berbasis Ternak Kambing: Pemerahan Susu dan Layani Aqiqah

BANYUURIP, Bagi kebanyakan orang, susu kambing masih indentik dengan bau prengus atau bau khas kambing. Tak jarang mereka yang sudah mau meminumnya lalu mengurungkan niat akibat mencium aroma prengus yang ada di susu kambing itu.

Tapi hal itu tidak akan terjadi bila Anda minum susu kambing produksi Lumut Sutra, sebuah unit usaha berbasis ternak kambing. Dengan varian rasa original, cocopandan, melon, dan gula aren, aroma masing-masing rasa itu begitu menyatu dengan susu murni yang tersaji dalam kemasan botol plastik ukuran 250ml.

Saat ditemui di lokasi budidaya pemerahan susu kambing di Dusun Gemuling RT 01 RW 02 Kelurahan Kledung Karangdalem, Kecamatan Banyuurip, Sabtu (7/11), pengelola Lumut Sutra yakni Zain Panji Pangestu memberi penjelasan. Dirinya didampingi pengelola Serambi Aqidah, Prasasti Insani (Sani).

Beberapa waktu lalu kandang kambing Lumut Sutra mendapat kunjungan dari Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat ke Purworejo. “Produk susu kambing kami sudah masuk ke dalam produk Lapak Ganjar dan beliau berkenan mengunjungi tempat ini untuk mengetahui lebih dekat,” ucap Zain mengawali pembicaraan.

Memerah susu kambing Sapera

Zain menjelaskan, Lumut Sutra memiliki filosofi yakni tumbuhan paling sederhana dan kecil berwarna hijau serta hidup berkoloni (lumut) yang membawa kejayaan (sutra). “Kami berharap nantinya usaha kecil ini akan semakin berkembang dan dapat membawa kemakmuran bagi banyak orang,” ungkap Zain.

Lumut Sutra mulai dirintis tahun 2017 dengan modal awal 15 ekor indukan domba untuk breeding. Pada tahun 2019 setelah manajemen berkembang dengan mulai ada unit untuk Kambing Perah. Jadilah keseluruhan kegiatan Lumut Sutra adalah Breeding, Fatening dan Milking. Semuanya dengan kandang masing-masing untuk jenis Kambing Khusus Perah, jenis kambing dan untuk jenis domba.

Tahun 2020 Lumut Sutra kembali meluaskan usaha dengan mulai membuka Serambi Catering yang melayani Jasa Aqiqah, Kambing Guling dan katering.

Di lokasi itu juga terdapat kambing pejantan jenis Sanen yang konon berasal dari Swiss. Sanen dikawinkan dengan Peranakan Ettawa dan menghasilkan turunan yang disebut Sapera. Sapera betina itulah yang diperah susunya.

Pejantan kambing Sanen asal dari Swiss

Walaupun baru berumur kurang dari setahun, kambing putih bersih itu sudah kelihatan besar. Menurut Zain, kambing jenis ini akan memiliki bobot yang maksimal saat berusia tiga tahun dengan kualitas dan kuantitas susu yang baik.

Zain menjelaskan bahwa budidaya pemerahan sangat komplek, karena meliputi pembiakan, penggemukan, dan pemerahan. Yang diperah, lanjutnya, adalah jenis kambing sapera untuk antisipasi biaya.
“Karena yang jenis sanen high cost dan juga ia harus beradaptasi dengan cuaca. Tapi produk susunya memang paling banyak.”

Zain merinci, dari 30 kambing yang ada, enam diantaranya siap diperas. Masing-masing kambing menghasilkan sekitar satu liter susu per hari. Jadi dalam sehari Lumut Sutra menghasilkan 24 botol yang semuanya sudah dipesan oleh pelanggan. Ia mengaku jumlah itu belumlah maksimal mengingat potensi pasar yang terus berkembang.

Selain wilayah Purworejo, susu kambing Lumut Sutra sudah merambah wilayah Magelang, Yogya dan Semarang. “Hari ini sekalian ada acara, kami akan kirim ke Magelang untuk pasien Covid-19 yang mengkonsumsi susu kambing,” lanjut Zain.

Zain di base camp Lumut Sutra

Setiap botol yang berisi 250 ml dijual dengan harga Rp 10.000 untuk rasa original dan Rp 13.000 untuk varian rasa melon, cocopandan, atau gula aren. Dalam jangka waktu dekat juga akan ditambahkan rasa madu.

Susu kambing konon juga bagus bagi mereka yang memiliki alergi protein sebagai protein pengganti. Pada kondisi di luar ruang, kata Zain, susu kambing hanya dapat bertahan hingga 12 jam. Tapi bila dimasukkan freezer, bisa tahan hingga tiga minggu.

Untuk menjaga kualitas produksi menurut Zain adalah dengan memperhatikan pakan serta kebersihan kandang. Kambing yang dipelihara di Lumut Sutra menggunakan pakan ternak berupa konsentrat dan serat. “Untuk konsentrat menggunakaan kadar protein kasar (PK) 18%, sedangkan sumber seratnya menggunakan serat hijauan atau kering pengganti hijauan.”

Kambing-kambing itu diberi pakan dua kali sehari yakni pada pagi dan sore setelah diperah. Sedangkan untuk menjaga kebersihan kandang dan kambing dilakukan pembersihan puting sebelum diperah. Selain itu model panggung yang digunakan adalah untuk menyaring kotoran kambing agar mudah dibersihkan.

Lumut Sutra juga layani kambing guling

“Kotoran kambing ini juga kami openi. Kalau ada warga yang membutuhkan kami persilakan untuk mengambilnya. Kami juga menjualnya bila digunakan untuk kepentingan usaha,” katanya.

Zain berharap masyarakat Indonesia khususnya Purworejo familiar dengan susu kambing. Selain di Purworejo banyak peternak kambing, susu kambing juga memiliki gizi yang baik. “Keunggulan susu kambing adalah mudah dicerna oleh tubuh karena jenis lemaknya lebih bagus daripada susu sapi,” jelas Zain.

Melayani Kebutuhan Aqiqah

Selain menjual susu kambing, produk lain yang masih satu rumpun dengan usaha penggemukan kambing yakni aqiqah. Dengan produk usaha berlabel Serambi Aqiqah, masyarakat diberi pilihan domba yang murah tapi berkualitas untuk kebutuhan aqiqah.

Dalam Islam, menurut Hadits Riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi disebut “Semua anak bayi tergadaikan dengan aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya disembelih hewan (kambing), diberi nama dan dicukur rambutnya.”

Kambing untuk aqiqah

Untuk memenuhi hal itulah, Serambi Aqiqah yang beralamat di Desa Grabag RT 02/01 saat ini menyediakan sekitar 25 kambing jenis domba yang siap dipilih masyarakat yang ingin aqiqah. “Kami menyediakan full domba untuk keperluan aqiqah secara syar’i,” kata pengelola Serambi Aqiqah, Prasasti Insani atau yang biasa disapa Sani.

Ia menyebut, usaha ternak domba mulai dirintis tahun 2017. Baru pada bulan Agustus lalu kemudian difokuskan untuk keperluan aqiqah. Sani menyebut, pihaknya menyediakan pesanan domba aqiqah dengan harga mulai Rp 1.4000.000.

“Harga itu sudah termasuk dimasak alias matang. Kalau kambing Jawa harga mulai Rp 2 jutaan,” ungkap Sani. Adapun bobot domba yang dimaksud yakni 20 hingga 25 kg untuk harga ring bawah. Sedangkan untuk ring atas beratnya mencapai lebih dari 30 kg.

Harga tersebut menjadi murah karena ia menernakkan sendiri domba tersebut. Selain itu tentu saja domba sudah memasuki umur minimal enam bulan.

Dus aqiqah siap antar

Meski begitu Sani menyebut, harga tersebut mengikuti harga kambing di pasaran. Pernah juga, menurutnya, harganya hanya mencapai Rp 1.200.000. Harga itu, katanya, sudah termasuk ongkir.

Jenis masakannya, lanjut Sani, disesuaikan dengan permintaan konsumen. Bisa dibikin sate, kambing guling, atau masakan lain. Sani menjamin, semua masakan berbau kambing tidak akan beraroma prengus. Hal itu, katanya, karena tergantung dari cara mengolahnya.

Serambi Aqiqah juga menyediakan jasa katering untuk keperluan menu kambing. Selain itu, menjelang Idul Adha, Serambi Aqiqah pun menyediakan hewan qurban berbagai ukuran.

Saat ini, ujar Sani, kandang dombanya memiliki kapasitas 100 domba dengan tiap petak masing-masing berisi lima ekor domba. Sani berharap agar usaha yang dirintisnya dapat berkembang agar bisa meningkatkan lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar. Menurut Sani saat ini dirinya memiliki empat karyawan.

Baik Zain dan Sani menyebutkan, selain kedua unit usaha itu, masih ada lagi ternak kambing di Desa Salam, Kecamatan Gebang. Di sana ada sekitar 60an kambing yang dikelola oleh Hartono. (Adv/Dia)

Tinggalkan Balasan