Ketua Yayasan Institut Indonesia Kunjungi Alumni yang Sukses Kembangkan Bolen Pisang

KUTOARJO, Lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dihimbau untuk berdikari, membuka usaha sendiri. Demikian diungkapkan oleh Nur Riyanto, pemilik Amira Bakery, alumni SMK Institut Indonesia (II) tahun 2001 saat menerima kunjungan Ketua Yayasan Institut Indonesia 48 Cabang Kutoarjo, Drs Uripto, dan Kaprodi TITL (Listrik) SMK II Kutoarjo, Shinta Kusumastuti, ST, MPd, di kediamannya Desa Pacor, Kecamatan Kutoarjo, Senin (26/10).

Riyanto menginginkan adik-adik angkatannya untuk mulai belajar mengenali peluang di sekitar lingkunganya. Peluang tersebut dapat diperoleh dari keluhan atau barang yang selalu dipakai orang.

Menurutnya peluang selalu ada bagi mereka yang benar-benar ingin berusaha. Sebab modal utama berdirinya suatu usaha adalah berani menangkap peluang, menekuni, lalu memberikan pelayanan kepada pelanggan sebaik mungkin.

“Peluang itu bisa pada hal-hal yang belum ditekuni orang lain, atau pada inovasi-inovasi yang belum dilakukan orang lain, atau pada kebutuhan masyarakat yang belum terlayani dengan cukup,” tambahnya.

Pelopor Usaha Mikro Kecil dan Menengah yang produknya juga merambah ke wilayah Yogyakarta, Magelang, Kebumen dan Cilacap itu menjelaskan keberhasilan berwirausaha tidak harus langsung besar tetapi cukup menjadi yang terbaik di wilayahnya.

Riyanto (tengah)

Awalnya ia menangkap peluang untuk membuat usaha bolen pisang karena di Purworejo belum ada yang membuat produk tersebut. Hingga kini usahanya telah memunculkan aneka variasi bolu, lapis legit dan roti. Dari ketiga itu, produk best seller miliknya adalah bolen yang terbuat dari pisang raja. Setiap hari ia memproduksi hingga 5 ribu pieces.

Di sisi lain, Riyanto menjelaskan jiwa pengusaha bukanlah mencari keuntungan sebanyak-banyaknya, melainkan semangat untuk membantu dan menyediakan kebutuhan masyarakat. Ia sendiri memilih untung sedikit tetapi kepuasan dan silahturahmi dengan pelangan tetap terjaga.

Shinta menambahkan pihaknya terus menjalin silahturahmi dengan para alumni. Selain untuk berbagi semangat, ia ingin ilmu dan pengalaman para alumni bisa ditularkan kepada adik-adiknya yang masih menempuh pendidikan di SMK II. Ia selalu mengingatkan siswanya bahwa pendidikan SMK itu tidak untuk mencetak buruh.

Ia juga berharap UU Omnibus Law yang ada bisa mempermudah perijinan dan mendorong para lulusan SMK untuk berwirausaha. Karena jika investasi asing dibuka secara lebar dan tidak ada proteksi bagi rakyat Indonesia sendiri maka usaha-usaha kecil yang ada pasti kalah saing dan gulung tikar. Sehingga menyebabksn warga Indonesia hanya menjadi buruh di negerinya sendiri.

“Semoga UU Omnibus Law itu berdampak pada munculnya penguasaha-pengusaha muda. Saya berharap ada proteksi dan kemudahan-kemudahan khusus bagi anak-anak muda yang ingin membuka usaha,” harap Kaprodi muda lulusan Teknik Elektro UGM itu.

Sementara itu, Uripto menyatakan agar para siswa SMK memiliki keyakinan dan semangat berwirausaha sejak dini. “Dengan bekal keterampilan yang dimiliki, ada banyak hal yang bisa dilakukan setelah mereka lulus,” ungkapnya. (Fau)

Tinggalkan Balasan