Kerajinan Irig Jadi Produk Andalan Warga Prapaglor

PITURUH, Kerajinan irig yang terbuat dari anyaman bambu dan biasa digunakan sebagai peralatan rumah tangga jadi mata pencaharian utama warga Dukuh Krajan Desa Prapaglor, Kecamatan Pituruh. Di desa ini, sekitar 80 persen warganya pengrajin irig dan ayakan dari bambu.
Salah satunya adalah Mbah Torijan (63) dan istrinya, Kasiyem (55) warga RT 02 RW 03 Dukuh Krajan, Desa Prapaglor. Meski kondisi fisiknya terbatas, selama puluhan tahun Mbah Torijan mencukupi kebutuhan keluarga dengan mengandalkan sebagai pengrajin irig.
Mbah Torijan tak tahu pasti kapan awal mula ada kerajinan irig di desa ini. Konon sudah ada sejak puluhan bahkan mungkin ratusan tahun. Mbah Torijan sendiri tak ingat lagi kapan ia memulai usahanya.
Dituturkan Mbah Torijan, dalam membuat kerajinan irig dibutuhkan kesabaran dan waktu lumayan lama. Mbah Torijan mengaku sehari hanya mampu membuat lima buah saja. Bahan baku berupa bambu dibeli dari pasar dengan harga berkisar Rp 10 ribu hingga Rp 15 ribu perbatang.
Irig buatan Mbah Torijan biasanya dijual di Pasar Pituruh, Prembun, Kutowinangun, dan Kebumen. Pernah juga mendapat pesanan dari Jambi dan Lampung melalui pengepul yang sudah berlangganan memasarkan irig.
“Harga irig yang besar Rp 5.000 sedangkan yang kecil Rp 4.000. Biasanya dijual kodian atau 20 buah dengan harga Rp 100.000 perkodi,”tutur Mbah Torijan.
Menurut Mbah Torijan, jika ada pesanan dalam jumlah banyak terkadang dirinya menolak lantaran kesulitan bahan baku dan tenaga. Apalagi dirinya dan istri hanya bekerja pada orang lain yang mendapat upah perbuah Rp 700.
Meski penghasilannya jauh dari layak, tidak menyurutkan semangat Mbah Torijan terus menggeluti kerajinan irig.
“Buat saya bukan soal upahnya, namun semangat mewarisi tinggalan pendahulu yang sudah menjadi warisan turun temurun di desa ini, “kata Mbah Torijan sambil menganyam ereg.
Mbah Torijan berharap, ada generasi penerus untuk melanjutkan warisan pendahulunya agar kerajinan ereg di Desa Prapaglor tidak punah ditelan jaman.
Sementara Kasiyem menyebutkan, kerajinan irig atau ayakan dari bambu ini biasanya dipakai oleh ibu rumah tangga untuk mencuci sayuran maupun memeras santan kelapa seusai di parut. (W5)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *