Kemarau Ancam Kekurangan Air Bersih di 68 Desa, BPBD Nyatakan Siap Antisipasi

PURWOREJO, Mulai memasuki musim kemarau di awal Juli, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Purworejo siap siaga dengan memetakan daerah yang rawan kekeringan air bersih. Terdapat 68 desa tersebar di 11 kecamatan yang terdampak tahun lalu menjadi dasar pemetaaan kemarau tahun ini.

Kepada Purworejonews, ketika ditemui di kantor BPBD Kamis (30/7) Kepala Seksi Kedaruratan R Iman Ciptadi menyebut 11 kecamatan tersebut terdiri atas Kecamatan Purworejo, Kaligesing, Bayan, Grabag, Bagelen, Purwodadi, Kemiri, Pituruh, Loano, Bener, dan Gebang. 

“Yang paling parah tiga desa di Kecamatan Bagelen, yaitu Hargorojo, Somorejo, dan Sokoagung,” terang Iman.

Sampai saat ini pihaknya belum menerima permintaan droping air secara resmi dari desa-desa. Namun Iman mengungkapkan pada pertengahan Juli lalu ada warga datang untuk meminta bantuan air bersih guna hajatan. Permintaan tersebut kemudian disalurkan ke PDAM karena merupakan kebutuhan pribadi. 

Tanah di Desa Hargorojo mulai kering

Iman berharap kemarau tahun ini tidak sepanjang tahun lalu, sebab anggaran yang ada beberapa persen telah dialokasikan untuk penanganan Covid-19. Dalam melakukan pemetaaan, BPBD mengacu kepada data jumlah desa yang terdampak tahun lalu. 

Diungkapkan, BPBD kini siap dengan lima armada untuk mengirim air baku ke desa-desa yang kesulitan air bersih. Satu mobil biasanya manpu mengirim sebanyak tujuh rit (perjalanan), pagi empat kali malam tiga kali. 

“Satu mobil berisi 5.000 liter air bersih. Tahun lalu, BPBD mampu melakukan dropping 35 rit dalam sehari atau 175.000 liter air perhari. Sampai 24 November 2019, kami bersama PDAM mampu mengirim 14.580.000 liter air untuk konsumsi warga,” sebut Iman.

Air yang dikirim lalu ditampung di bak penampung yang disediakan saat Program Nasional Penyediaan Air Minum (Pamsimas) atau dalam terpal yang kemudian dialirkan menuju rumah-rumah warga.

Iman menyatakan dirinya bersama tim mendorong masyarakat untuk mencari sumber air lain yang potensial agar membantu kebutuhan air di musim kemarau. 

Sementara itu dari Desa Hargorojo dilaporkan, sampai saat ini mata air masih mengairi tandon air dan mengalir ke rumah-rumah warga. Namun debitnya sudah mulai berkurang.

“Ini baru mulai permulaan. Diperkirakan air tandon habis dalam waktu satu atau dua bulan ke depan,” ujar Wina, relawan yang tinggal di RT 3 RW 1 Desa Hargorojo. (Fau)

Tinggalkan Balasan