Harapan Pjs Bupati: Tahun Depan Purworejo Bebas dari Kasus Malaria

PURWOREJO, Pjs Bupati Purworejo Ir Yuni Astuti, MA, berharap tahun depan Kabupaten Purworejo dapat eliminasi dari kasus malaria. Dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah, tercatat hanya Kabupaten Banjarnegara dan Purworejo yang belum dapat tereliminasi.

Hal tersebut dikatakannya saat menghadiri Rapat Koordinasi Persiapan Eliminasi Malaria Kabupaten Purworejo, di Sanjaya Hotel, Selasa (20/10).

Meski Pemkab Purworejo sedang fokus mengendalikan Covid-19, Yuni menegaskan tidak akan lupa akan penanganan malaria yang potensinya masih cukup besar.

“Ini tidak kalah membahayakannya jika kita lupa bahwa posisi kita masih rentan. Jika satu tahun lagi tidak ada kasus malaria indigenous (malaria setempat), maka tahun 2021 insyaallah eliminasi,” kata Yuni.

Ia menuturkan kasus malaria di Purworejo masih laten sebab banyak nyamuk anopheles yang bersemayam di Bukit Menoreh. Untuk itu ia berpesan agar puskesmas sebagai garda terdepan dalam pelayanan kesehatan masyarakat dapat menjalankan tiga fungsinya dengan baik, yakni tempat pelayanan kesehatan, surveilans, dan penyuluh.

“Tiga fungsi puskesmas itu sebagai upaya preventif. Jadi akan jauh lebih murah penanganan kesehatan masyarakat itu jika kita juga aware atau sadar terhadap fungsi penyuluhan dan surveilans,” imbuhnya.

Pjs Bupati Ir Yuni Astuti, MA di depan peserta Rakor

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Purworejo, dr Sudarmi, MM, menyebut kasus malaria indigenous terakhir terjadi pada bulan November 2018. Setelah itu tidak ditemukan lagi kasus malaria jenis itu, melainkan muncul kasus malaria impor atau yang berasal dari luar.

“Kalau tiga tahun berturut-turut kita tidak ada kasus malaria indigenous, pada tahun 2021 akhir kita sudah bisa eliminasi malaria dan akan terus kita pertahankan,” kata Sudarmi.

Ia menjelaskan terdapat beberapa hal yang perlu dilakukan untuk mencapai eliminasi. Salah satunya adalah melakukan optimalisasi surveilans migrasi dengan pemberdayaan masyarakat.

Menurutnya adanya proyek strategis YIA, Bendungan Bener dan BOB dapat dimanfaatkan sebagai motivasi masyarakat agar terus berbenah, salah satunya dengan mengeliminasi malaria.

“Masyarakat sekarang sudah pada aware terhadap malaria, sudah bagus. Mari kita bersama-sama menjaga Purworejo supaya bisa bebas atau eliminasi malaria dan mempertahankannya,” pungkas Sudarmi.

Rakor turut dihadiri dr Desriana E Ginting, MARS, Kasi Pencegahan Subdit Malaria Kemenkes RI, Jana Fitria Kartikasari, SKM, M.Kes, Perwakilan WHO, Tri Dewi Kristini SKM MEpid, pejabat Dinkes Provinsi Jawa Tengah, dan para Kepala UPT Puskesmas se Kabupaten Purworejo. (Fau)

Tinggalkan Balasan