Dua Tahun Penularan Setempat Nihil, Purworejo Eliminasi Malaria Tinggal Selangkah Lagi

PURWOREJO, Selama tiga tahun terakhir Pemkab Purworejo melalui Dinas Kesehatan berupaya keras menihilkan angka kasus penularan setempat atau indigenous untuk mencapai eliminasi atau bebas malaria. Hasilnya, dalam dua tahun terakhir, 2019 dan 2020, angka penularan setempat atau indigenous nol.

Kepala Seksi Pemberantasan Penyakit pada Dinas Kesehatan Kabupaten Purworejo, Triyo Darmaji, SKM, yang dihubungi di kantornya, Jumat (13/11) menjelaskan, tahun 2019 terdapat 26 kasus malaria, semuanya impor dan tahun 2020 ini ada enam kasus juga semuanya impor alias tidak ada kasus penularan setempat atau indignous. Dan tahun 2021 diharapkan juga nihil sehingga Purworejo menerima sertifikat eliminasi atau bebas malaria.

“Ada tiga syarat agar suatu daerah menerima sertifikat eliminasi malaria. Yaitu Annual Parasite Incidence (API) kurang dari 1, tidak ada penularan setempat tiga tahun berturut-turut, dan angka positif slide (Slide Positif Rate) kurang dari 5%,” jelasnya.

Ditegaskan, salah satu upaya untuk mencegah terjadinya penularan setempat, yaitu setiap pendatang atau orang habis bepergian dari daerah endemik atau luar Jawa, akan diperiksa darahnya oleh Dinkes, Puskesmas, atau juru malaria desa yang siaga di 10 puskesmas rawan malaria.

“Kami bekerjasama dengan tokoh masyarakat dan perangkat desa untuk melaporkan setiap ada pendatang dari luar Jawa atau daerah endemis. Orang tersebut kami ambil darahnya untuk memastikan yang bersangkutan positif atau negatif malaria,” tandasya.

Dijelaskan, ada beberapa wilayah di Kabupaten Purworejo yang berpotensi penularan setempat, yaitu wilayah di sepanjang perbukitan menoreh dari Kecamatan Bagelen sampai Bener. Kini ditambah Bruno, Gebang, Kemiri, dan Pituruh.

“Selama ini nyamuk anopheles di wilayah itu ada. Sehingga perlu mewaspadai  pendatang dari daerah endemis atau luar Jawa. Caranya, jika ada pendatang dari luar Jawa atau daerah endemik, langsung dicek darahnya. Jika positif malaria seketika diobati untuk melemahkan parasit,” jelas Triyo.

Di Jateng tinggal Kabupaten Purworejo dan Banjarnegara yang belum bebas malaria. Sementara di kabupaten tetangga, Kulonprogo, juga belum eliminasi. Padahal Purworejo dan Kulonprogo merupakan jalur wisatawan dari Eropa, setelah adanya Yogyakarta International Airport.

“Malaria paling ditakuti oleh orang Eropa. Oleh karena itu Purworejo dan Kulonprogo harus bebas malaria sehingga wisatawan dari Eropa tidak takut,” ungkapnya.

Semua wilayah di Purworejo ada anopheles. Yang vector yang potensial menularkan, balabacensis, aconitus, malcunatus. Di pegunungan dan pedesaan. Paling dicuriga balabascensis. (Nas)

Tinggalkan Balasan