Dinparbud Undang Awak Media Belajar Merawat Pusaka di Museum Tosan Aji

PURWOREJO, Puluhan wartawan Purworejo mengikuti agenda Belajar Bersama di Museum Tosan Aji Purworejo, yang digagas Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Purworejo, Selasa (15/9). Dalam agenda itu, wartawan diajak mengenal lebih jauh isi Museum Tosan Aji dan berkesempatan belajar cara merawat benda-benda tosan aji seperti keris, cundik, pedang dan lain-lain.

Didampingi empat staf UPT Pengelola  Alun-Alun dan Museum Tosan Aji , wartawan belajar mewarangi atau membersihkan keris dan mengenal 1.138 koleksi museum.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Purworejo, Agung Wibowo, AP, MM, menyatakan semua koleksi museum berasal dari hibah masyarakat. Koleksi museum terdiri atas arca, keris, pedang, tombak, cundik dan puluhan benda purbakala lainnya yang dulu digunakan sebagai senjata, ritual, atau hanya hiasan. 

Menurutnya koleksi Museum Tosan Aji memiliki nilai yang tinggi sehingga menjadi sisi positif sebagai pilihan tempat wisata. “Setidaknya museum kita bisa bersaing dengan yang lain. Secara koleksi berani bertanding dengan museum lain,” katanya.

Shima, menjelaskan seluk-beluk

Sebagai upaya penjagaan atau pengawasan museum, Agung menyampaikan hari ini museum mulai dipasangi CCTV. “Kita akan awasi 24 jam demi keamanan,” ujar Agung.

Agung berharap wartawan dapat menyebarluaskan salah satu destinasi wisata di Purworejo ini. Sehingga dapat menarik masyarakat luas datang ke museum untuk menambah wawasan mengenai peninggalan-peninggalan sejarah.

“Museum sudah cukup lama namun tidak begitu terdengar. Harapannya para wartawan dapat membantu dari sisi publikasi dan promosi,” ujarnya.

Meski demikian, menurut Agung pengunjung museum dari tahun ke tahun selalu naik. Terlebih setelah adanya renovasi bangunan interior gedung Museum Tosan Aji tahun lalu. “Rata-rata pengunjung mencapai 100-150% dari target yg ditetapkan,” sebutnya.

Contoh-contoh hasil pembuatan tosan aji

Selain itu, Agung menyatakan museum membuka jasa pencucian tosan aji seperti pedang dan keris mulai pukul 10.00 sampai 14.00. “Bagi siapa saja warga Purworejo yang ingin mencucikan peninggalan dari orangtua atau simbahnya, bisa langsung datang ke sini,” jelasnya. 

Lalu, para wartawan belajar membersihkan keris yang dipandu oleh Purwanto, karyawan museum bagian perawatan tosan aji. Awalnya, keris dikeluarkan dari wadahnya lalu direndam ke warangan yang terbuat dari bubuk warangan dan air jeruk nipis. Tujuan pewarangan untuk menghilangkan karat yang ada di keris.

“Setiap keris durasi perendamannya berbeda-beda tergantung kondisi apakah karatnya parah atau tidak. Kalau yang parah itu biasanya jam 23.00 malam saya rendam lalu esoknya baru disikat,” tambahnya.

Agung Wibowo, soal koleksi berani tanding

Keris yang sudah bersih dari karat akan terlihat pamornya yang berwarna putih. Menurut Purwanto kunci keberhasilan pewarangan adalah adanya sinar matahari dan angin. “Sebaiknya di luar ruangan ketika mewarangi. Kalau hujan pewarangan kurang maksimal,” jelasnya.

Setelah itu, keris disikat dengan sabun colek dan air jeruk dari arah bawah ke atas bolak-balik. Purwanto menyatakan agar bersih sampai ke pori-pori, keris juga dipencet-pencet dengan tangan. Lalu, keris disiram dengan air mengalir dan dilap dengan kain.

Koleksi keris dan pedang di Museum Tosan Aji dibedakan menjadi lima tangguh, yakni tangguh Mataram, Majapahit, Kartosuro, Pajajaran, dan Kamardikan. 

“Tangguh itu artinya masa pembuatan keris dan pedangnya. Tangguh tertua Pajajaran dan termuda Kamardikan,” jelas Shima, staff UPT Alun-Alun dan Museum Tosan Aji saat mendampingi para wartawan.

Wajah depan Museum Tosan Aji

Koleksi dari masa Tangguh Mataram seperti pedang dapur katana tahun 1538, pedang pamor kulit semongko, pedang pamor buntel. Tangguh Majapahit, seperti keris koro welang pamor kulit semongko, keris kantar pamor kulit semongko, dan tikam kulit sari adeg.

Keris yang termasuk tangguh Kartosuro diantaranya keris kebo teki pamor tunggak semi dan kebo teki sanak Mataram. Sedangkan tangguh kamardikan seperti keris baru, dapur nogo pamor beras wutah. 

Di Museum Tosan Aji juga tersimpan puluhan  bebatuan sejarah seperti menhir atau batu panjang, batu lumpang, serta lingga dan yoni yang merupakan lambang kesuburan yang biasanya ditemukan di area persawahan.

Selain itu juga tertata berbagai patung dewa dan dewi yang berusia ratusan tahun. Kesemuanya ditemukan di berbagai wilayah yang tersebar  di Kabupaten Purworejo. (Fau)

Tinggalkan Balasan