Dinilai Resahkan Masyarakat, Bupati Purworejo Akan Hentikan Kegiatan “Keraton Agung Sejagat”

PURWOREJO, Pemerintah Kabupaten Purworejo memutuskan akan menghentikan segala kegiatan yang dilakukan oleh sekelompok orang yang menamakan diri Keraton Agung Sejagat di Desa Pogung Jurutengah, Kecamatan Bayan. Langkah yang akan ditempuh Pemkab yaitu menerbitkan surat perintah penghentian oleh Bupati dan ditindaklanjuti dengan pemasangan Satpol-PP Line di lokasi “keraton”.

Demikian antara lain hasil rapat khusus Penanganan Konflik Sosial (PKS) yang digelar di Ruang Bagelen, Gedung Setda Purworejo, Selasa (14/1). Rapat PKS dipimpin Bupati Purworejo yang diwakili Asisten III Sekda Drs Pram Prasetyo Achmad, MM, dihadiri oleh Ketua DPRD Dion Agasi Setyabudi, S.Ikom, M.Si, Dandim 0708 Letkol Inf Muchlis Gasim, SH, M.Si, Kepala Kesbangpol Jawa Tengah Drs Akhmad Rofai, M.Si, Wakapolres Kompol Andis Arfan Taufani serta sejumlah pimpinan OPD.

Pram Prasetyo yang menjelaskan hasil rapat mengatakan, ada beberapa aspek yang dijadikan landasan Pemkab Purworejo untuk segera mengambil tindakan. Aspek-aspek tersebut yaitu pendirian bangunan “keraton” tanpa IMB, pernyataan-pernyataan pihak “keraton” yang dinilai bisa menimbulkan keresahan dan cerita tentang kerajaan sejagat tidak ada dalam catatan sejarah resmi.

Ribuan warga menonton bangunan Keraton Agung Sejagat

Sementara itu Wakapolres Kompol Andis Arfan Taufani menambahkan, pihaknya telah memeriksa sejumlah warga sekitar lokasi yang mengaku tidak nyaman dengan berdirinya Keraton Agung Sejagat. Mereka diminta keterangannya terkait kegiatan “keraton” yang kini viral di media sosial.

“Kami sudah berkomunikasi dengan camat dan kades setempat tentang hal tersebut dan mereka akan lapor bupati lebih dulu,” katanya.

Dijelaskan, sementara ini pihaknya memberikan pemahaman kepada masyarakat sekitar agar mereka tidak resah.

Wartawan Purworjonews yang memantau di lokasi Selasa (14/1) sore melaporkan, ribuan orang berduyun-duyun datang silih berganti ke lokasi “keraton”. Mereka bukan hanya dari daerah sekitar, bahkan banyak yang datang dari luar daerah.

Kebanyakan pengunjung datang untuk berswafoto atau mengambil video di depan bangunan “keraton”. Ada juga yang minta berfoto bersama seorang perempuan yang mengenakan pakaian “keraton” dan mengaku sedang piket.

“Mohon doanya ya semoga tidak terjadi apa-apa dengan kami,” kata perempuan itu usai difoto.
Seperti diketahui, kabar tentang Keraton Agung Sejagat ini mulai viral setelah mereka mengadakan acara Wilujengan dan Kirab Budaya, yang digelar dari Jumat (10/1) hingga Minggu (12/1).

Kegiatan Kirab Budaya yang sempat membuat heboh warga

Keraton Agung Sejagat dipimpin oleh seorang raja yang menyebut dirinya Sinuhun. Nama asli Sinuhun yaitu Totok Santosa Hadiningrat serta istrinya yang dipanggil Kanjeng Ratu yang memiliki nama Dyah Gitarja. Pengikut Keraton Agung Sejagat kini mencapai sekitar 450 orang.
Kepada para wartawan pimpinan keraton menjelaskan, Keraton Agung Sejagat merupakan kerajaan atau kekaisaran dunia yang muncul karena telah berakhir perjanjian 500 tahun yang lalu, terhitung sejak hilangnya Kemaharajaan Nusantara, yaitu imperium Majapahit pada 1518 sampai dengan 2018.
Perjanjian 500 tahun tersebut dilakukan oleh Dyah Ranawijaya sebagai penguasa imperium Majapahit dengan Portugis sebagai wakil orang barat atau bekas koloni Kekaisaran Romawi di Malaka tahun 1518.
Dengan berakhirnya perjanjian tersebut, maka berakhir pula dominasi kekuasaan barat mengontrol dunia yang didominasi Amerika Serikat setelah Perang Dunia II dan kekuasaan tertinggi harus dikembalikan ke pemiliknya, yaitu Keraton Agung Sejagat sebagai penerus Medang Majapahit yang merupakan Dinasti Sanjaya dan Syailendra. (Nas/Dia/berbagai sumber)

Tinggalkan Balasan