Dinas Arpusda Gelar Lomba Rias Manten dan Pergelaran Panggih Jangkep

PURWOREJO, Untuk melestarikan salah satu budaya Jawa yaitu rias manten gaya Jawa, Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Purworejo menggelar kegiatan Festival Perpustakaan Desa. Kegiatan dilaksanakan di Pendopo Kabupaten Purworejo, Sabtu (3/11).
Dalam kegiatan yang diberi tajuk Njejegke Negara Liwat Budaya tersebut dilaksanakan Aben Trampil (lomba) Rias Manten Solo Putri dan pagelaran Panggih Jangkep Gagrak Surakarta. Festival diikuti 13 peserta kelompok rias manten perwakilan binaan dan kelompok umum.
Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Purworejo Tri Joko Pranoto mengatakan, Festival Perpustakaan Desa merupakan inovasi dari Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Purworejo.
Dijelaskan, pemahaman perpustakaan zaman sekarang berbeda dibanding dulu. Dulu perpustakaan hanya sekedar ajang pinjam dan baca buku, tapi sekarang perpustakaan sebagai transformasi, dari membaca, memahami sampai merealisasikan dalam bentuk praktek dan pelatihan.
Karena itu pada tahun 2018 ini pihaknya membuka sejumlah pelatihan seperti rias manten, dekorasi janur, merangkai mahar, dan pranoto coro (MC).
“Nah di penghujung tahun ini kami menggelar kegiatan festival perpustakaan desa untuk menampilkan hasil karya para peserta pelatihan, “kata Tri Joko Pranoto atau biasa disapa Menot.

Menurutnya, saat ini rias pernikahan gaya Jawa sudah mulai ditinggalkan. Para perias dan pengantin lebih banyak menggunakan gaya barat dan islami yang dinilai lebih simpel.
“Mungkin dianggap ribet, kalau toh ada rias Solo Putri dan Panggih Jangkep Gagrak Surakarta sudah keluar dari pakem. Dengan kegiatan ini harapan kami masyarakat tahu pakemnya, ” kata Tri Joko.
Pada kesempatan itu Wakil Bupati Purworejo Yuli Hastuti, SH mengatakan, sekilas memang tampak agak aneh ketika Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah mengadakan kegiatan Rias Pengantin Solo Putri dan Pagelaran Panggih Adat Solo. Namun inilah paradigma perpustakaan saat ini, dimana perpustakaan tidak lagi hanya sebagai tempat pinjam dan baca buku, namun juga sebagai pusat kegiatan masyarakat.
“Pengembangan perpustakaan desa merupakan wujud dari replikasi perpustakaan daerah sebagai mitra PerpuSeru yang dikembangkan ke desa. Salah satu tujuannya, agar perpustakaan desa bisa menjadi pusat kegiatan masyarakat yang berbasis teknologi informasi, “kata Wakil bupati.
Lanjut Wakil bupati, terselenggaranya perpustakaan di setiap desa akan memberikan harapan pada peningkatan kualitas hidup masyarakat melalui pemanfaatan koleksi buku dan kegiatan pelibatan masyarakat di perpustakaan. Yakni dengan menciptakan kegiatan-kegiatan positif, yang pada akhirnya berimbas pada peningkatan minat baca dan peningkatan taraf hidup masyarakat dan kemajuan desa.
Wakil bupati berharap kegiatan tersebut bisa memberikan ruang bagi para penerima manfaat dari perpustakaan dalam mengekspresikan hasil dari berbagai kegiatan yang telah terselenggara.
“Mudah-mudahan pula dengan berbagai kegiatan ini, Perpustakaan Desa menjadi lebih terbuka, dapat diakses masyarakat untuk mendapatkan kesempatan, kreativitas, pengetahuan dan pembelajaran bagi masyarakat, “tandas Wakil bupati. (W5)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *