Dijamin Aman, Stok Pupuk Bersubsidi untuk Penuhi Kebutuhan Pada Masa Tanam 1

PURWOREJO, Menghadapi musim tanam I (MT I) periode Oktober-Maret persediaan pupuk untuk 29.000 hektare lahan pertanian di Kabupaten Purworejo dilaporkan aman. Hingga akhir September 2020, stok lima jenis pupuk bersubsidi mencapai 29.000 ton. Jumlah itu dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan pupuk pada MT 1.

“Insyaallah pada musim tanam kali ini kebutuhan pupuk bersubsidi aman. Para petani tidak lagi harus membeli pupuk nonsubsidi yang harganya mencapai tiga kali lipat,” tandas Kepala Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan Kabupaten Purworejo, Wasit Diono, S.Sos, di ruang kerjanya, Kamis (15/10).

Menurut Wasit, pada musim tanam tahun lalu memang terjadi kelangkaan pupuk. Hal itu karena pasokannya lebih sedikit dari kebutuhan. Sehingga banyak petani yang terpaksa membeli pupuk nonsubsidi.

Dijelaskan, saat ini pupuk urea bersubsidi yang ada di Gudang Pupuk Pusri tersedia sebanyak 13.300 ton, dan pupuk lainnya yaitu ZA (3.654 ton),SP (3.330 ton), NPK (8.642 ton) dan pupuk Organik (5.000 ton). 

Gudang Pupuk Sriwijaja di Batoh

Menurut Wasit yang didampingi Kasi Sapras Dwijo Warso, S.Ot, mengungkapkan, saat ini petani dijamin mendapatkan pupuk bersubsidi karena sudah 100% menggunakan Kartu Tani. Petani cukup datang ke Kios Pupuk Lengkap (KPL) yang tersebar di 16 kecamatan.
 

“Ada 97 KPL yang siap melayani pembelian pupuk, terbanyak di Kecamatan Grabag,” imbuh Wasit.
Saat ini harga pupuk bersubsidi yang berlaku yaitu pupuk urea Rp 1.800/kg, SP Rp 2.000/kg, ZA Rp 1.400/kg, NPK Rp 2.300/kg dan Organik Rp 500/kg. Sedang harga pupuk urea nonsubsidi mencapai Rp 4.500/kg.

Wasit menghimbau kepada para petani untuk menggunakan rumus 5-3-2 dalam komposisi pupuk, yaitu 5 urea/organik, 3 SP dan 2 NPK. Komposisi itu untuk meningkatkan produksi pertanian.

“Tapi komposisi tersebut sifatnya hanya anjuran, tidak wajib. Banyak petani yang sudah menemukan komposisi terbaik yang disesuaikan dengan letak dan kontur lahan. Itulah yang disebut dengan kearifan lokal,” tambah Dwijo. (Nas)

Tinggalkan Balasan