Dharma Wanita Gelar Pelatihan Pemulasaraan Jenazah Perempuan

PURWOREJO, Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kabupaten Purworejo menggelar pelatihan pemulasaran jenazah bagi anggota DWP. Pelatihan yang digelar di kantor PKK Kabupaten pada Kamis (23/5), dibuka oleh Ketua DWP Dra Erna Setyowati Said Romadhon. Pelatihan dilakukan oleh Zulfah Kirom SAg dari Kantor Kementerian Agama Purworejo.

Menurut Erna Said, pengetahuan tentang pemulasaran atau mengurusi jenazah perempuan terutama memandikan jenazah dan mengkafani dinilai sangat penting bagi kaum perempuan.

“Pemulasaran jenazah perempuan, sebaiknya yang melakukan dari kalangan perempuan juga. Meskipun Pak Kaum juga boleh, tetapi akan lebih baik jika perempuan yang menangani,”ujarnya.

Oleh karena itu, kata Erna Said, ilmu tentang pemulasaran jenazah agar dapat diimplementasikan dan ditularkan kepada lingkungan masing-masing. Sehingga ketika ada kematian jenazah perempuan, dapat dipraktekkan terutama memandikan dan mengkafani.

Terkait peran DWP dalam ketahanan keluarga, Erna Said mengingatkan anggota DWP untuk senantiasa menjadikan keluarga yang berkualitas dan harmonis untuk mewujudkan keluarga yang sejahtera lahir juga batin.

“Sebagai pendamping suami dan sebagai Ibu dari anak-anak, tentu berupaya jadi Ibu yang kuat, sehat, dan teladan bagi keluarga. Apalagi ibu seringnya sebagai tempat curhatnya suami juga anak-anak, oleh karena itu ibu harus punya ilmunya.

Sementara itu Zulfah Kirom, S.Ag menguraikan tentang pemulasaran jenazah yakni kewajiban sebagai muslim setiap jenazah agar dimandikan, dikafani, disholatkan, dan dikuburkan.

“Kita sebagai wanita minimal bisa melakukan pemulasaraan jenazah perempuan terutama memandikan dan mengkafani. Dalam merawat jenazah prinsipnya tidak menyakiti jenazah, sehingga dalam melakukannya harus hati-hati,”katanya.

Memandikan dimulai menyiramkan air dari kepala dan membersihkan semua lubang telinga, hidung, dll. Jangan lupa sabun mandi, sampo, kapur barus yang digerus. Lalu kapur barus yang sudah dicampur air untuk yang paling terakhir dengan dimandikan di seluruh tubuh. Tujuannya agar tidak didekati serangga dan kuman pada jenazah tidak menular. Jika ada rambut yang rontok atau kuku yang dipotong, maka diikutkan dikubur.

Setelah bersih diwudhukan lalu mulai dikafani dengan kain putih. Pertama jenazah dibedaki, diberi minyak wangi, liptiks boleh namun tidak usah menor. Kemudian setiap lubang ditutup kapas, baru dikafani dan diikat dengan tali kain putih.

Sebelum memandikan jenazah agar berwudhu terlebih dahulu, dan setelah selesai merawat jenazah dianjurkan untuk mandi. Ada hal penting antara lain sejak jenazah dimandikan hingga dikafani aurat harus tertutup kain dari mulai dada hingga lutut, yang memandikan diutamakan orang yang diwasiatkan, kalau tidak ada wasiat berarti saudara perempuan, atau siapapun seorang perempuan yang amanah. Artinya perempuan yang bisa memegang rahasia dan tidak menceritakan kondisi jenazah kepada orang lain.

“Diusahakann jangan Pak Kaum yang merawat jenazah perempuan, maka agar diwajibkan bagi Bu Kaum untuk bisa melakukan pemulasaraan jenazah,” jelas Zulfah. (A)

Tinggalkan Balasan