Bramantyo Suwondo: Pemerintah Harus Segera Stabilkan Harga Ayam Potong

PURWOREJO, KADER Partai Demokrat Bramantyo Suwondo Mudhiantoro (25), Sabtu (21/7) mengimbau agar pemerintah, baik di pusat maupun daerah, tanggap menyikapi fluktuasi harga daging ayam, khususnya di wilayah Magelang, Temanggung, Purworejo dan Wonosobo.

“Atasi segera fluktuasi harga daging ayam, agar peternak, pedagang di pasar dan rakyat tidak dirugikan,” tegas Bramantio yang biasa dipanggil Mas Bram.

Pernyataan itu disampaikannya merespon realitas di lapangan saat memantau di sejumlah pasar di wilayah Kedu belakangan ini.

Mas Bram memgaku menerima aspirasi dari kalangan peternak, pengusaha dan pekerja tempat pemotongan ayam di Kabupaten Magelang dan Temanggung.
Harga daging ayam, setidak-tidaknya di dua daerah tersebut, seperti tidak terkontrol dan mengalami fluktuasi yang merugikan rakyat sebagai konsumen, peternak, juga pengusaha dan karyawan tempat pemotongan ayam.

Dikatakannya, kebijakan pemerintah tentang harga daging ayam batas bawah sebesar Rp 17.000 perkilogram, dan batas atas seharga Rp 19.000, sebenarnya sudah menguntungkan para distributor. Karena sampai saat ini, para distributor itu membeli daging ayam dari peternak antara Rp 10.000 sampai Rp12.000 perkilogram.

“Tetapi mereka menjual kepada pedagang di pasar tradisional seharga Rp 25.000/Kg,”tegas Bram.

Akibat permainan harga tersebut, kata Bramantyo, harga daging ayam di tingkat konsumen masih bertahan di atas Rp 30.000/Kg. Informasi dan aspirasi yang disampaikan kalangan peternak dan pengusaha pemotongan ayam, ujar Bram, menggambarkan, fluktuasi harga daging ayam potong tersebut tidak menguntungkan peternak, pengusaha pemotongan ayam, apalagi konsumen.

Menurut Bram, pemerintah pusat melalui Kementerian Perdagangan dan Pemerintah Kabupaten/Kota melalui Dinas Perdagangan dan Koperasi masing-masing, semestinya tanggap dan bergerak cepat.

“Paling tidak melakukan kontrol dan mengambil tindakan langsung untuk menstabilkan harga,”tandasnya.

Dikatakannya, bila fluktuasi harga daging ayam tersebut terus dibiarkan, akan menghambat pasokan gizi masyarakat. Termasuk menghambat pencapaian target pemerintah meningkatkan konsumsi daging ayam rata-rata 15,5 Kg per tahun.

Fluktuasi harga daging ayam tersebut, kata Bramantyo, bila dibiarkan juga dapat menimbulkan kesenjangan dan berakibat pada ketidak-puasan rakyat. Dampak sosialnya akan meluas.

Pemerintah, katanya, tidak bisa begitu saja mendorong masyarakat mengkonversi konsumsi daging ayam ke konsumsi ikan, karena kebutuhan gizi masyarakat, perlu dipasok oleh variasi seimbang antara daging sapi, daging ayam, dan ikan. (*)

Tinggalkan Balasan