Bisnis Masker dan Hand Sanitizer: Berkah di Balik Kesusahan

PURWOREJO, Sebelum wabah virus Corona melanda, tak pernah terpikirkan oleh sebagian besar masyarakat kita untuk memakai masker sebagai pelindung mulut dan hidung saat beraktivitas di luar. Demikian juga hand sanitizer atau gel pembersih tangan yang kini seolah menjadi daftar belanjaan baru yang “wajib” dibeli.

Semakin merebaknya virus yang menyebar lewat kontak fisik itu, membuat masyarakat makin merasa perlu untuk melindungi diri dengan “mengonsumsi” kedua APD (alat pelindung diri) tersebut.

Dan hukum supply demand pun berlaku. Semakin meningkatnya kebutuhan, semakin mahal harga dari biasanya. Barang pun mulai langka. Banyak orang mulai beralih memakai masker kain dibanding masker bedah yang harganya selangit dan makin langka. Juga hand sanitizer tanpa merk patenpun menjadi incaran.

Hal ini membuka peluang bagi beberapa orang yang jeli. Mereka lalu memiliki bisnis sampingan baru, memproduksi masker kain atau hand sanitizer. Seperti halnya Nitta dan Annisa; keduanya pemilik toko pakaian ternama di Purworejo.

Masker kain pun laris manis

Pemilik toko pakaian Rumah Bella Collection, Nitta, mengaku, dalam kurun waktu kurang dari dua
minggu, ia sudah menjual lebih dari 60 lusin masker kain.

Dibandrol dengan harga eceran Rp 13.000 atau Rp 130.000 per lusin, Nitta mengaku mendapatkan keuntungan yang sangat lumayan. “Bisnis pakaian sepi, jadi ini sebagai pelipur lara,” ujarnya.

Sama seperti Nitta, pemilik toko An Nisa, Nissa, mengaku mendapatkan untung yang lumayan dari berjualan masker kain yang dilakoninya kurang dari sebulan lalu.

Hand sanitizer siap jual

Dari tokonya yang strategis karena berada di tengah kota, ia mengaku sudah menjual lebih dari 50 lusin masker kain, baik dijual secara eceran maupun lusinan; hal yang sulit dilampaui untuk berjualan kaos kaki yang harganya setara sekalipun.

Demikian juga penjual hand sanitizer dadakan. Seperti yang dialami Felix. Penjual makanan ringan itu mengaku menjual hand sanitizer yang semula ditawari oleh temannya di Bandung. Tak dinyana secara mulut ke mulut, hand sanitizer yang dijual Felix dalam kemasan liter laris manis.

Tapi sayangnya, walaupun pesanan masih berdatangan, Felix tidak berminat meneruskan bisnis dadakan itu dengan alasan resiko saat ekspedisi serta sulitnya mencari botol kemasan yang lebih kecil.

Apapun, di dalam kesulitan, akan ada peluang bisnis bagi orang-orang yang jeli. Mereka bukanlah meraup keuntungan semata, tetapi juga untuk memudahkan orang memenuhi barang yang dibutuhkan. (Yudia Setiandini)

Tinggalkan Balasan