Ambrol 20 Meter, 22 Kepala Desa di Pituruh dan Kemiri Gotong-royong Perbaiki Bendungan Kedunggupit

PITURUH, Sebanyak 16 kepala desa di Kecamatan Pituruh dan enam desa di Kecamatan Kemiri sejak Senin (6/1) kemarin bergotong-royong memperbaiki bendungan Kedunggupit di Desa Kalikotes, Kecamatan Pituruh. Bendungan buatan tahun 1870 itu sejak Agustus lalu ambrol sepanjang 20 meter. Aibatnya areal sawah seluas 1.129 hektare di sepanjang Daerah Irigasi (DI) Kedunggupit Wetan tak mendapat suplai air.

Camat Pituruh, Yudhi Agung Priyanto, SSTP menjelaskan, 22 kepala desa yang bergotong-royong meliputi Desa Pituruh, Prigelan, Ngampel, Sikambang, Kendalrejo, Kalikotes, Kesawen, Ngandagan, Karanganyar, Tunjungtejo, Sekartejo, Dlisen Wetan, Tersidi Lor, Pepe, Megulung Lor, Megulung Kidul (Pituruh), Kroyo Kulon, Kroyo Lor,Rejosari, Waled, Wonosari, Samping (Kemiri).

“Mereka iuran membeli bambu sebanyak 4.000 batang untuk dibuat palang bendungan. Sedang alat berat dan kayu untuk pancangan dibantu oleh PSDA Probolo,” jelas Yudhi Agung.

Ke-22 desa tersebut merupakan desa yang terdampak areal sawahnya tak terairi irigasi Kedunggupit Wetan. Apalagi sejak 30 Oktober lalu irigasi dari Wadaslintang tidak mengalir lagi akibat penurunan debit air di Waduk Wadaslintang.

Camat Pituruh Yudhi Agung Priyanto

Menurut Camat, penanganan ambrolnya Bendung Kedunggupit diakui cukup pelik. Pasalnya, pihak Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak mengaku tidak berwenang memperbaiki bendungan tersebut. Alasannya bendungan tersebut tidak masuk aset yang tercatat di institusinya.

“Saya sendiri tidak habis pikir mengapa Bendungan Kedunggupit tidak masuk aset BBWSO,” ungkapnya dengan nada heran.

Menjawab pertanyaan mengenai dugaan ambrolnya bendungan sebagai dampak dari aktivitas penambangan pasir di sekitar bendung, Yudhi Agung menyatakan tidak mau berspekulasi.

“Terus terang saya awam dalam masalah ini. Ada yang bilang penambangan berdampak tergerusnya bendungan. Tapi ada juga yang bilang jika tidak ditambang bisa terjadi pendangkalan sungai,” tandasnya.

Yudhi Agung berharap perbaikan bendungan hasil swadaya para kepala desa dan warga bisa terwujud dan mampu bertahan setidaknya tiga tahun ke depan. Sehingga pada Musim Tanam II petani bisa mengolah sawahnya. (Nas/Dia)

Tinggalkan Balasan